Gelombang Panas Ekstrem Melanda Eropa, Suhu Mencapai 42,8°C

Jakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah negara di tengah berupaya mengatasi dampak yang melanda. Suhu ekstrem ini telah menyebabkan masalah serius di berbagai wilayah, terutama di Prancis dan Spanyol yang mengalami suhu tertinggi dan yang meluas.

Berdasarkan laporan Reuters, Eropa dikenal sebagai benua dengan tingkat pemanasan tercepat di dunia. Musim panas kali ini, suhu panas yang memecahkan rekor dan kebakaran hutan telah menghancurkan banyak daerah. Komisioner Lingkungan Uni Eropa menyatakan bahwa mereka akan mendesak negara-negara anggotanya untuk meningkatkan pengeluaran dalam upaya pencegahan kebakaran hutan, di tengah proyeksi kerugian ekonomi akibat kebakaran yang diperkirakan melebihi 15 miliar euro (sekitar Rp309,3 triliun).

Bulgaria menjadi negara terbaru yang mengalami bencana kebakaran hutan, dengan laporan dari portal berita NOVA menyebutkan bahwa jalan raya utama Trakia terpaksa ditutup akibat api yang menyebar akibat angin. Di Italia, Kementerian Kesehatan mengeluarkan peringatan siaga merah dari Palermo hingga Bolzano, menandakan potensi keadaan darurat kesehatan akibat suhu tinggi yang berkepanjangan.

Di kota Assisi, para peziarah disemprot dengan air oleh relawan saat Paus Leo berkunjung untuk memperingati 800 tahun kematian Santo Fransiskus. Salah satu relawan, Miriam Mariotti, menyatakan antusiasme para peziarah meskipun cuaca sangat panas. “Ketika Anda peduli dengan sesuatu, meskipun panas, Anda akan tetap berusaha,” tuturnya.

Sementara itu, di Roma, para turis menggunakan payung untuk melindungi diri dari sinar matahari langsung. Gianni Arlotta, seorang pengunjung dari Trieste, mengatakan mereka berusaha menghindari aktivitas pada siang hari, lebih memilih untuk berkeliling pada pagi atau malam hari. Di wilayah Emilia-Romagna, suhu bahkan mencapai 42,8 derajat Celsius di Bagnacavallo, dekat Ravenna.

Di Hungaria, pemadaman pencahayaan non-esensial di gedung-gedung negara dilakukan untuk menghemat energi. Penurunan ketinggian air di Sungai Donau juga memaksa negara ini membatasi operasional pembangkit listrik tenaga nuklir. Rumania mengambil langkah darurat dengan menenggelamkan beberapa tongkang berisi batu untuk mengalihkan arus ke reaktor yang masih berfungsi.

Di Bukares, pihak berwenang meredupkan lampu jalanan hingga sepertiga dari kapasitas normal dan mematikan penerangan di bangunan bersejarah demi menghemat pasokan listrik. Suhu di Moldova juga meningkat tajam, melebihi 38 derajat Celsius, yang dapat memengaruhi kondisi kelistrikan di negara tersebut. Krisis ini berdampak pada ketahanan energi yang juga dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam menghadapi dan mengelola sumber daya energi secara berkelanjutan.

This entry was posted in Berita and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *